Saturday, October 19, 2019

Bagian 3 - Awal Petualangan

Satu minggu berlalu sejak aku terdampar di tempat aneh ini. Saat ini aku sedang menerobos hutan dengan harapan bisa bertemu penduduk dan pemukiman. Syukur-syukur sih bisa ketemu kota. Oh, iya. Ada beberapa fakta tentang Shella yang aku ketahui sehari setelah pertemuan perdana kami. 

Pertama, dia adalah manusia jadi-jadian. Maksudku adalah, dia itu ras selain manusia, tepatnya mermaid tapi dia bisa berubah wujud menjadi manusia. Itulah alasan dia bisa membawaku dari laut ke daratan. 


Kedua, dia adalah bagian dari keluarga bangsawan di Kerajaan Aqua Marin. Katanya, hanya prajurit dan masyarakat kelas atas di kerajaan Aqua yang memiliki kemampuan berubah menjadi manusia. Kerajaan Aqua adalah kerajaan para mermaid yang terbagi menjadi dua, Aqua Marin di selatan dan Aqua Glacia di utara. Sepertinya meski memiliki moyang yang sama, kedua kerajaan ini saling bermusuhan. 

Ketiga, Shella adalah anak bandel yang sangat kepo dengan kehidupan di darat. Dia sendiri yang bilang kalau dia sering kabur dari rumah dan pergi sendiri tanpa pengawal. Bahkan dia sudah terdaftar dalam Asosiasi Petualang. Benar-benar bolang nih dia. 

Awalnya aku ingin dia memanduku untuk pergi ke kota terdekat, tapi tiga hari setelah awal perjumpaan kami, ada beberapa prajurit yang mendatangi kami. Aku rasa mereka pasukan yang dikirim untuk menjemput Shella. Benar saja, setelah berbincang dengan mereka secara pribadi, Shella pamit pulang. Dia bilang ada urusan mendadak yang harus diselesaikan. 

Sebelum pulang, dia memberiku sebuah cincin yang bentuknya agak aneh. Dia bilang cincin tersebut adalah cincin yang memiliki fitur Ruang Penyimpanan kelas E, tingkat terbawah dengan kapasitas 20 slot. Cincin ini dia pakai ketika dia berusia 6 tahunan, sebelum dia dibelikan cincin dengan kapasitas lebih besar. Bahkan saat ini, sejak dia mendapatkan sihir Ruang Penyimpanan, dia sudah tidak pernah menggunakan cincin-cincin tersebut, tapi dia tetap menyimpannya sebagai kenangan. 

Tadinya kupikir benda ini tidak akan muat di jariku, tapi ternyata dia punya fitur auto-size yang bisa merubah ukuran sesuai penggunanya. Uniknya lagi, jumlah item dalam benda ini akan dikonversikan sesuai jenis benda, sehingga dia bisa menyimpan lebih dari 20 benda sejenis. Aku lihat di dalam cincin ini ada pecahan karang, kerang, dan berbagai benda khas laut dalam lainnya yang jarang ditemukan di pantai, apalagi daratan. Sepertinya Shella menghabiskan masa kecilnya di rumahnya di dasar laut sana. Ketika aku tanya soal kenapa dia ngebiarin benda-benda ini ada di sini, dia bilang kalau yang ada di cincin ini adalah sisa yang sudah ga menarik baginya jadi ga masalah kalo aku mau ambil. 

Cincin Ruang Penyimpanan terdengar terlalu panjang jadi aku singkat saja namanya jadi Cipan. Dengan kapasitas yang terbatas, otomatis ga semua barang bawaanku muat di dalam Cipan, tapi ketika aku masukkan mereka ke dalam tas, aku bisa memasukkan semua bawaanku. Praktis banget! Kelemahannya, aku harus ngeluarin tasku dulu sebelum bisa pakai barang-barang yang lain. Ga masalah sih, seengganya aku masih bisa jalan tanpa bawa beban berat di punggung. Jadi dari 20 slot, 8 di antaranya berisi pernak-pernik dari Shella, ditambah tas carrier berisi aneka peralatan camp dan bahan makanan mentah, sepeda, golok yang sekarang aku pakai, dan beberapa makanan siap makan dan botol berisi air minum. 

Menurut perkataan Sheila, saat ini aku ada di sebuah pantai yang terletak di sisi tenggara Hutan Alasamba. Untuk bisa mencapai kota terdekat, dia menyarankan untuk pergi ke utara untuk mencapai kota Mandown yang merupakan bagian dari Kerajaan Gora. Sesampainya di sana, aku disarankan untuk mendaftarkan diri ke Asosiasi Petualang biar bisa cari informasi yang berkaitan dengan cara agar aku bisa pulang, juga buat sumber dana. 

Sekarang sudah hari kedua sejak aku memulai perjalananku. Stok makanan yang aku bawa sudah hampir habis. Untungnya, di hutan ini banyak buah-buahan yang aman dikonsumsi. Aku belum bertemu hewan berdaging di tempat ini, bahkan serangga sekalipun. Aku beberapa kali bertemu Slime dan membunuh mereka. Tadinya aku ingin coba memakan mereka, tapi cairan tubuh mereka berbau menyengat jadi aku enggan. Meski begitu, aku tetap mengumpulkan kulit tubuh mereka, barangkali punya nilai jual. 

Saat ini aku sedang mengisi ulang persediaan air di tepi sebuah sungai. Sepertinya aku sudah berjalan lumayan jauh karena air di tempat ini sudah tidak terasa asin lagi jadi airnya bisa langsung diminum tanpa disuling. Vegetasi di hutan tempatku berada juga sudah berubah dari yang awalnya dominan akar lutut dan akar gantung, sekarang didominasi akar papan. Harusnya sebentar lagi aku sudah keluar dari wilayah hutan mangrove. 

Krosak, krosak... 

Hm? Apa itu? Sepertinya ada suara gemerisik seperti daun yang diinjak hewan. Apa itu artinya di wilayah ini ada hewan? Atau mungkin monster? Apapun itu, ga ada salahnya buat ngecek. Semoga hewan yang bisa dimakan. 

Aku berjalan mengendap-endap mendekati sumber suara tadi. Asalnya sepertinya dari balik pohon besar beberapa meter dari tempat aku mengambil air. Saat aku sudah berada dekat pohon tadi, aku mencoba mengintip apa yang mengeluarkan suara gemerisik tadi. Ularkah atau babi hutan, atau makhluk lain? Setelah didekati, ternyata suara tadi berasal dari sebuah bola bulu berdiameter sekitar setengah meter. Tunggu! Itu bukan bola bulu! Bola tadi hanya separuh ukuran aslinya. 

“Wih.... Kelinci bertanduk!”

No comments:

Post a Comment