Thursday, March 14, 2019

Bagian 2 - Sihir

Aku masih terheran-heran dengan apa yang baru saja aku lihat. Ketika aku bertanya padanya soal apakah sihir itu masih ada di dunia ini, dia malah bertanya balik. 


"Daripada itu, saya malah merasa aneh anda tidak tahu soal sihir"
"Hm? Hmm.... Mungkin karena aku berasal dari tempat di mana kami hidup tanpa sihir".
"Tunggu dulu. Maksud anda, ada tempat di mana penghuninya bisa bertahan hidup tanpa sihir? Menakjubkan. Dari mana anda berasal?" 




Hm? Tunggu dulu. Kalau dari reaksi Shella, dia seolah bilang kalau sihir adalah hal lumrah di tempat ini. Apakah aku berada di suatu wilayah dunia yang belum terjamah, atau... aku memang sudah mati? Bukankah biasanya orang masuk dunia paralel setelah mengalami kematian? Perasaan aku ga ketemu Truk-kun deh tadi. Hmm.... 



"Permisi. Apakah anda mendengar saya?" 
"Eh? Ah, iya. Ada apa ya?” 
“Sudah saya duga. Anda terlihat tidak fokus.” 
“Hehe, iya. Maaf ya. Aku abis mikir banyak hal tadi. Jadi, gimana?” 
“Begini, saya tadi bertanya, anda asalnya dari mana? Eh anda diam saja.” 
“Hehe, maaf deh. Asalku ya? Umm... Aku berasal dari sebuah tempat bernama Indonesia dan di sana kami hidup dengan peralatan yang ada di sekitar kami. Kami tidak hidup dengan bantuan sihir". 
"Oh, ya ampun. Sepertinya anda berasal dari tempat yang sangat terpencil. Anda pasti termasuk bangsawan di tempat asal anda. Terlihat dari penampilan anda dan barang-barang yang anda bawa ini". 



Aku tidak mengerti kenapa dia menyebutku berasal dari tempat terpencil. Bukankah masyarakat modern memang hidup tanpa sihir melainkan dengan teknologi dan ilmu pengetahuan. Ah, iya. Aku lupa bilang soal teknologi. Jangan-jangan dia malah berpikir aku berasal dari peradaban kuno. Aku harus mengoreksi kalimatku. 



"Bukan begitu. Maksudku, aku hidup dengan... " 

"Baiklah, baiklah. Saya mengerti. Jadi apakah anda tidak betah hidup tanpa sihir dan bepergian untuk sebuah perjalanan mencari sihir?" 

Ah, tidak. Dia malah salah paham. Tapi dia mengucapkan sesuatu yang menarik. Mencari sihir? Satu hal yang tidak pernah kupikirkan sebelumnya. Menarik. Aku iyain aja deh omongannya. Siapa tau bakal jadi dapet ilmu baru. 

"Aku rasa kamu benar. Aku pengen belajar sihir. Kamu bisa ngajari aku?"

"Hmm. Baiklah. Saya akan mengajari anda beberapa hal dasar tentang sihir."
"Dasar? Kenapa cuma sampai dasar? Tunggu, jangan-jangan kemampuan sihirmu cuma..."
"Cuma? Cuma anda bilang? Baiklah. Akan saya tunjukkan kemampuan sihir saya pada anda. Perhatikan baik-baik". 


Ups. Sepertinya dia tersinggung. Dasar Andre bodoh! Songong amat deh, masih nub juga. Hmm... Aku lihat Shella mengangkat tangannya dan mengucapkan suatu frase yang sepertinya itu nama sihir yang dia gunakan. 


"Ice Blade!" 


Setelah dia mengucapkan itu, tiba-tiba muncul beberapa bongkah es seukuran kaki orang dewasa yang ujungnya terlihat runcing melayang di udara. Ketika Shella mengayunkan tangannya, bongkahan-bongkahan es tadi berjatuhan ke tanah. Mengerikan. Benar-benar mengerikan. 

"Bagaimana? Tidakkah anda pikir kemampuan sihir saya hebat?" 
“Keren.... Aku sampe bingung mau ngomong apa. Kalo kamu sehebat itu, kenapa cuma ngajarin aku hal-hal dasar? Kamu takut kesaing?" 
"Hah? Hahaha. Tidak, tidak. Anda tidak akan semudah itu melewati kemampuan saya, anak muda. Dengar ya, setiap orang memiliki kecenderungan elemen yang berbeda-beda. Saya misalnya, memiliki kecocokan dengan elemen air. Kita tidak tahu elemen apa yang sesuai dengan anda jadi kalaupun saya mengajari anda teknik yang saya ketahui, belum tentu anda bisa mempelajarinya. Apa anda mengerti?" 
"Oh, gitu. Jadi bisa dibilang kamu bilang ke aku kalau kamu bakal ngajarin aku beberapa hal dasar tentang sihir, tapi sisanya aku cari sendiri?" 
"Tepat sekali. Untuk bisa mempelajari sihir dengan sempurna, anda bisa mempelajarinya sendiri atau mencari guru yang bisa mengajari anda." 
"Tapi bagaimana caranya aku bisa mengetahui elemen yang sesuai denganku?"

"Anda bisa melihatnya dengan bantuan sebuah alat bernama Batu Pemindai. Benda tersebut akan memberitahu level, ras, elemen, dan informasi lain yang anda butuhkan. Cara lainnya lagi adalah dengan skill Status. Sayangnya skill ini hanya dimiliki para Pahlawan dan orang-orang tertentu saja. Saya sendiri tidak memiliki skill ini jadi saya tidak tahu cara kerjanya." 

“Begitu rupanya. Sayang sekali.... Lalu, apa yang akan kita pelajari sekarang” 
“Pertama, saya ingin memberi anda sesuatu.” 

Shella sekali lagi terlihat seperti melihat-lihat sesuatu, jarinya terlihat naik turun seperti orang yang lagi scroll di layar komputer touch screen. Lalu dia berhenti dan sekali lagi mengambil sesuatu dari Ruang Penyimpanan-nya. Apa yang dia ambil terlihat seperti selembar kertas kulit yang digulung. 

“Ambil ini. Bukalah.” 
“Apa ini? Aku tidak mengerti tulisan, corak, dan simbol-simbol di kertas ini.” 
“Tidak masalah. Itu adalah Gulungan Mantra. Coba alirkan ensi ke kertas itu, maka sihir yang terkandung di dalamnya akan berpindah padamu.” 
“Sihir? Semudah itukah untuk mempelajari sihir? Lalu, ensi. Apa itu ensi? Aku tidak tahu bagaimana cara mengalirkan ensi.” 
“Hmm... Dimulainya dari situ ya? Baiklah, aku akan mengajarimu cara merasakan aliran ensi dan cara menggunakannya.” 

Setelah itu, Shella mengajariku beberapa hal tentang ensi dan cara menggunakannya. Gulungan Mantra yang dia kasih berisi kompilasi sihir untuk kehidupan sehari-hari seperti Clean dan beberapa sihir elemen dasar seperti Flare, Water Drop, dll. Ternyata belajar sihir tidak sesulit yang kubayangkan. Meski begitu tetap saja butuh waktu lebih dari satu hari untuk mempelajarinya. Mau ga mau kami harus camping di hutan dekat pantai. Aku bersyukur peralatan camp-ku tidak hilang. Shella terlihat tertarik saat aku menggunakan alat-alat camping yang kubawa. Setiap hari selain berlatih sihir, kami juga bertukar ilmu dan informasi.

No comments:

Post a Comment