Oke, jadi di depanku ada seekor kelinci raksasa yang tingginya satu meter kurang dan dia bertanduk. Kalo diperhatiin sih dia lumayan imut, tapi tanduk di kepalanya bikin ngeri. Payahnya lagi, aku ga punya senjata. Eh, bentar. Aku kan pegang golok. Golok termasuk senjata tradisional kan? Kira-kira golok ini mampu gak ya buat ngadepin itu kelinci?
Oke, tarik nafas.. Fiuh..
Dan sekarang, aku sudah berhadapan dengan kelinci bertanduk di depanku. Golok di tangan, mata awas menatap target di depan. Kelinci tadi juga sudah menyadari keberadaanku dan dia balas menatapku. Dia menundukkan badannya, sepertinya dia menggunakan tanduknya untuk menyerang. Aku yang dulu pernah ikut silat secara reflek juga memasang kuda-kuda sambil memperhatikan gerak-gerik lawan di depanku.
Srak! Whush...
Gila! Tadi itu bahaya banget. Jadi si kelinci yang tadi menunduk tiba-tiba melompat ke arahku. Untungnya aku berhasil menhindar ke samping. Oh, iya. Dugaanku ternyata bener. Si kelinci ini menyerang dengan memanfaatkan tanduk di kepalanya. Oke, kalo gitu caranya, aku harus cari cara buat hadepin hewan ini.
Si kelinci pun mendarat dan langsung berbalik arah ke arahku. Lagi-lagi dia mengambil posisi menunduk seperti saat akan menyerang tadi. Aku yang sadar kalau situasi ini berbahaya langsung lari menjauh dari si kelinci tadi. Si kelinci yang melihatku berlari langsung kembali tegak dan melompat ke depan, mengejarku.
Sampai akhirnya aku berhenti di samping sebuah pohon raksasa. Di depanku ada akar papan yang tingginya melebihi tinggiku, dan di belakangku ada si kelinci bertanduk. Si kelinci yang melihatku berhenti lari mungkin melihatku seperti mangsa yang terdesak dan menganggap ini adalah kesempatan bagus untuk menyerangku. Dia sekali lagi mengambil posisi menyerang dan aku memijakkan kakiku dengan kuat, bersiap untuk menghidar.
Srak! Jleb! Ciii...
Nah, sip! Akhirnya rencanaku berhasil. Walaupun aku terjatuh saat menghindar, tapi setidaknya sekarang si kelinci berhasil menancap di akar papan yang ada di depanku. Sekarang, saatnya ngetes ketajaman golok punyaku.
Jleb! Ciiiiii... Cii... Ci.
Akhirnya mati juga kelinci ini. Ya walaupun butuh waktu sih. Senangnya diriku bisa makan daging juga setelah berhari-hari makan dedaunan dan buah-buahan. Bukannya ga suka, tapi bosan aja. Pas awal ada di tempat ini sering dikasih ikan sih sama Shella, tapi itu udah lumayan lama.
Ping!
Hm? Apaan nih? Di depanku ada sebuah text box.
[Exp+ Lv+]
Oh, naik level toh. Itu artinya kelinci yang aku bunuh barusan termasuk monster. Ini adalah salah satu keunikan dunia magis ini di mana di sini selain ada sihir, juga ada sistem seperti game. Jadi di tempat ini ada konsep Experience dan Level. Shella sendiri bilang kalau level dia termasuk tinggi, tapi lebih rendah daripada anggota keluarganya yang lain. Ga mau ngebayangin deh, serem kayanya.
Jadi, kalau berdasarkan yang aku hitung dari pertama kali aku sampai sini sampai saat ini harusnya aku udah level 5. Pertama kali naik level, aku membunuh ikan(monster) yang udah dilemahkan Shella, waktu itu aku langsung naik 2 level. Sisanya aku banyak membunuh beberapa Slime sepanjang perjalanan sampai hari ini, tapi mereka ga kasih banyak Exp jadi aku cuma naik level sekali. Oh, iya. Kulit Slime ternyata ga ikut hancur walaupun inangnya udah mati, jadi aku coba koleksi deh. Siapa tau nanti bisa dijual. Lumayan udah ada berapa belas di cipan. Yang bikin cipan praktis adalah, bisa menyimpan banyak benda sejenis. Makanya aku bisa nyimpen banyak sisa kulit.
Sekarang, ini daging kelinci enaknya diapain ya? Pertama sih, udah pasti dikuliti dulu. Sepertinya dikuliti di sini ga masalah. Ga ada tanda-tanda adanya hewan atau monster lain. Ini kelinci nyasar kah? Bisa sampai sejauh ini. Setelah dikuliti, dipisah jadi 4 bagian yaitu: kulit, daging, organ dalam, dan tulang, lalu simpan di cincin. Yah, hampir penuh lagi nih.
Coba icip dagingnya ah. Sekalian coba salah satu skill dasar dari Shella. Pertama cari kayu kering, tumpuk, lalu aktifin skill.
“Fire ball” Whush...
Dalam sekejap tumpukan kayu tadi terbakar. Masalah cara memadamkan bisa menggunakan skill air “Water ball”, tapi aku akan menggunakannya nanti saja. Untuk membesarkan api bisa dengan tiup manual, kipas, atau skill angin “Breeze”. Berhubung saat ini niatku memasak di daging kelinci, jadi itu saja cukup. Untuk membersihkan daging dari kotoran, aku menggunakan skill normal “Clean Up” yang bisa digunakan pada diri sendiri maupun orang atau benda lain di sekitar kita. Skill normal punya sebutan lain “skill tanpa atribut” termasuk skill untuk kehidupan sehari-hari ataupun yang digunakan para petarung tipe non sihir.
Usai makan, saatnya melanjutkan perjalanan. Hari masih terang dan aku juga belum melihat adanya jalan setapak ataupun jalan kendaraan. Oke, saatnya berangkat...
No comments:
Post a Comment